Seorang Pemimpin yang Mencintai
Sastra
Jika Seorang pemimpin mencintai sastra n peduli dengan sastra tersebut,
di Negara ini akan banyak dibudayakan sastra dan di angkat sebagai hal yang
penting dan tidak boleh di abaikan, bahkan sastra itu akan dibudidayakan, jadi
bila pemimpin kita mencintai sastra, Negara pun akan menjadi kaya sastra dan
masyarakatnya pun lambat laun akan mencintai dan menjaga sastra tersebut, jadi
cintailah sastra mulai dari diri sendiri, karna mencintai n membudidayakan nya
adalah sebagian dari tugas kita
Sastra (Sanskerta: शास्त्र, shastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta śāstra, yang berarti "teks yang mengandung instruksi"
atau "pedoman", dari kata dasar śās- yang berarti "instruksi" atau
"ajaran". Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada
"kesusastraan" atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau
keindahan tertentu.
Yang
agak bias adalah pemakaian istilah sastra dan sastrawi. Segmentasi sastra lebih
mengacu sesuai defenisinya sebagai sekedar teks. Sedang sastrawi lebih mengarah
pada sastra yang kental nuansa puitis atau abstraknya. Istilah sastrawan adalah
salah satu contohnya, diartikan sebagai orang yang menggeluti sastrawi, bukan
sastra.
Selain
itu dalam arti kesusastraan, sastra bisa dibagi menjadi sastra tertulis atau sastra lisan
(sastra oral). Di sini sastra tidak banyak berhubungan dengan tulisan, tetapi
dengan bahasa yang dijadikan wahana untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran
tertentu.
Biasanya
kesusastraan dibagi menurut daerah geografis atau bahasa.
Jadi,
yang termasuk dalam kategori Sastra adalah:
- Novel
- Cerita/cerpen (tertulis/lisan)
- Syair
- Pantun
- Sandiwara/drama
- Lukisan/kaligrafi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar lah dengan memakai bahasa ANDA