Definisi Manajemen Proyek
Manajemen berasal dari bahasa Perancis kuno ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur. Proyek adalah
suatu usaha yang kompleks, tidak rutin, dibatasi oleh waktu, anggaran,
resource dan spesifikasi yang telah dirancang untuk dapat memenuhi
kebutuhan konsumen. Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa
manajemen proyek dapat diartikan sebagai suatu proses kegiatan untuk
melakukan perencanaan, pengorganiasian, pengarahan dan pengendalian atas
sumber daya organisasi yang dimiliki perusahaan untuk mencapai tujuan
tertentu dalam waktu dan sumber daya tertentu pula. Jadi, bisa
dikatakan manajemen proyek adalah cara mengorganisir dan mengelola sumber penghasilan yang penting untuk menyelesaikan proyek.
Hal
pertama yang harus dianggap sebagai manajemen proyek adalah bahwa
proyek ini diantarkan dengan batasan yang ada. Hal kedua adalah
kemungkinan terbaik distribusi sumber daya. Manajemen proyek adalah seni
mengontrol baik hal selama proyek, dari sejak dimulai sampai selesai
Dalam arti lain
Definisi
dari manajemen proyek
yaitu penerapan ilmu pengetahuan, keahlian dan ketrampilan, cara teknis yang
terbaik dan dengan sumber daya yang terbatas untuk mencapai sasaran yang telah
ditentukan agar mendapatkan hasil yang optimal dalam hal kinerja, waktu, mutu
dan keselamatan kerja. Dalam manajemen proyek, perlunya pengelolaan yang baik
dan terarah karena suatu proyek memiliki keterbatasan sehingga tujuan akhir
dari suatu proyek bisa tercapai. Yang perlu dikelola dalam area manajemen
proyek yaitu biaya, mutu, waktu, kesehatan dan keselamatan kerja, sumberdaya,
lingkungan, resiko dan sistem informasi.
Ada tiga garis besar untuk menciptakan berlangsungnya sebuah proyek, yaitu :
Ada tiga garis besar untuk menciptakan berlangsungnya sebuah proyek, yaitu :
1.
Perencanaan
Untuk mencapai tujuan, sebuah proyek
perlu suatu perencanaan yang matang. Yaitu dengan meletakkan dasar tujuan dan
sasaran dari suatu proyek sekaligus menyiapkan segala program teknis dan
administrasi agar dapat diimplementasikan.Tujuannya agar memenuhi persyaratan
spesifikasi yang ditentukan dalam batasan waktu, mutu, biaya dan keselamatan
kerja. Perencanaan proyek dilakukan dengan cara studi kelayakan, rekayasa
nilai, perencanaan area manajemen proyek (biaya, mutu, waktu, kesehatan dan
keselamatan kerja, sumberdaya, lingkungan, resiko dan sistem informasi.).
2.
Penjadwalan
Merupakan implementasi dari
perencanaan yang dapat memberikan informasi tentang jadwal rencana dan kemajuan
proyek yang meliputi sumber daya (biaya, tenaga kerja, peralatan, material),
durasi dan progres waktu untuk menyelesaikan proyek. Penjadwalan proyek
mengikuti perkembangan proyek dengan berbagai permasalahannya. Proses
monitoring dan updating selalu dilakukan untuk mendapatkan penjadwalan yang realistis
agar sesuai dengan tujuan proyek. Ada beberapa metode untuk mengelola
penjadwalan proyek, yaitu Kurva S (hanumm Curve), Barchart,
Penjadwalan Linear (diagram Vektor), Network Planning
dan waktu dan durasi kegiatan. Bila terjadi penyimpangan terhadap rencana
semula, maka dilakukan evaluasi dan tindakan koreksi agar proyek tetap berada
dijalur yang diinginkan.
3.
Pengendalian
Proyek
Pengendalian mempengaruhi hasil
akhir suatu proyek. Tujuan utama dari utamanya yaitu meminimalisasi segala
penyimpangan yang dapat terjadi selama berlangsungnya proyek. Tujuan dari
pengendalian proyek yaitu optimasi kinerja biaya, waktu , mutu dan keselamatan
kerja harus memiliki kriteria sebagai tolak ukur. Kegiatan yang dilakukan dalam
proses pengendalian yaitu berupa pengawasan, pemeriksaan, koreksi yang
dilakukan selama proses implementasi.
Manajemen
Resiko
Definisi Manajemen
resiko
adalah suatu pendekatan terstruktur/metodologi dalam mengelola ketidakpastian
yang berkaitan dengan ancaman; suatu rangkaian aktivitas manusia
termasuk: P enilaian risiko, pengembangan strategi untuk mengelolanya
dan mitigasi risiko dengan menggunakan pemberdayaan/pengelolaan
sumberdaya. Strategi yang dapat diambil antara lain adalah memindahkan risiko
kepada pihak lain, menghindari risiko, mengurangi efek negatif risiko, dan
menampung sebagian atau semua konsekuensi risiko tertentu. Manajemen risiko
tradisional terfokus pada risiko-risiko yang timbul oleh penyebab fisik atau
legal (seperti bencana alam atau kebakaran, kematian, serta tuntutan hukum.
Manajemen risiko keuangan, di sisi lain, terfokus pada risiko yang dapat
dikelola dengan menggunakan instrumen-instrumen keuangan.
Sasaran dari pelaksanaan manajemen risiko adalah untuk mengurangi risiko yang berbeda-beda yang berkaitan dengan bidang yang telah dipilih pada tingkat yang dapat diterima oleh masyarakat. Hal ini dapat berupa berbagai jenis ancaman yang disebabkan oleh lingkungan, teknologi, manusia, organisasi dan politik. Di sisi lain pelaksanaan risk manajemen melibatkan segala cara yang tersedia bagi manusia, khususnya, bagi entitas manajemen risiko (manusia, staff, dan organisasi).
Sasaran dari pelaksanaan manajemen risiko adalah untuk mengurangi risiko yang berbeda-beda yang berkaitan dengan bidang yang telah dipilih pada tingkat yang dapat diterima oleh masyarakat. Hal ini dapat berupa berbagai jenis ancaman yang disebabkan oleh lingkungan, teknologi, manusia, organisasi dan politik. Di sisi lain pelaksanaan risk manajemen melibatkan segala cara yang tersedia bagi manusia, khususnya, bagi entitas manajemen risiko (manusia, staff, dan organisasi).
Dalam
menghadapi risiko, setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda. Ada beberapa
cara pengelolaan risiko yang
bisa kita
gunakan untuk mengendalikan tingkat risiko financial yang dihadapi, yaitu :
1.Menghindari
Risiko (Avoiding Risk)
Cara
pengelolaan risiko yang paling mudah dilakukan adalah menghindari risiko sama
sekali.
Contoh :
untuk menghindari risiko jatuh sakit, maka seseorang akan menjaga stamina tubuh
dengan mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi, berolah raga secara
teratur dan tidak merokok serta tidak mengkonsumsi minuman beralkohol.
2.
Mengendalikan Risiko (Controlling Risk)
Kita dapat
berusaha mengendalikan risiko dengan mengambil langkah-langkah preventif untuk
mencegah dan mengurangi risiko tersebut.
Contoh : untuk mengurangi risiko kecelakaan
saat membawa kendaraan, maka seseorang akan memastikan bahwa kondisi ban,
rem, kopling dan mesin dalam keadaan baik, memakai pengaman, berhati-hati
dan
mematuhi rambu lalu lintas.
3.
Menerima Risiko (Accepting Risk)
Secara
sederhana menerima risiko sama dengan menanggung seluruh tanggung jawab
financial atas risiko yang terjadi tersebut.
Contoh 1 : seseorang tidak mengasuransikan rumahnya
terhadap risiko kebakaran, dan akan bersedia menanggung kerugian jika
terjadi risiko kebakaran terhadap rumahnya.
Contoh 2 : seseorang tidak mengasuransikan
kendaraannya terhadap risiko kecelakaan, dan akan bersedia menanggung
kerugian jika terjadi risiko kecelakaan terhadap kendaraannya.
Contoh 3 : seseorang tidak mengasuransikan
jiwa & raganya terhadap risiko kesehatan, dan akan bersedia
menanggung
kerugian jika terjadi risiko kesehatan terhadap jiwa & raganya.
4.
Mengalihkan Resiko (Transfering Risk)
Apabila
seseorang mengalihkan risiko ke pihak lain, maka ia mengalihkan tanggung jawab
financial atas risiko tersebut ke pihak lain, yang umumnya atas dasar
pemberian imbalan. Cara yang paling umum bagi seseorang, keluarga
atau perusaaan untuk mengalihkan risiko adalah dengan membeli
pertanggungan asuransi.
Risiko
kerugian financial tersebut:
dialihkan
ke perusahaan asuransi, dan apabila terjadi sesuatu kerugian yang spesifik,
perusahaan asuransi tersebut akan membayarkan sejumlah uang, asalkan
perusahaan asuransi tersebut telah menerima sejumlah uang, yang
disebut sebagai premi.
Contoh
management proyek & resiko :
1. Proyek Pembuatan Jalan Tol
Proyek pembuatan jalan tol ini termasuk proyek yang besar. Proyek jalan tol ini dibuat untuk menanggulangi kemacetan walaupun sampai sekarang belum maksimal juga mengatasi kemacetan. Salah satu proyek pembuatan jalan tol yaitu jalan tol padaleunyi, jalan tol ini harus dibuat dengan perhitungan yang benar karena struktur tanah yang labil dan mudah longsor dan jalannya pun yang naik turun. Resiko proyek ini yaitu jika perhitungannya tidak benar atau tanah yang berada di bawahnya longsor akan terjadi amblesnya jalan tol tersebut dan mengakibatkan kecelakaan.
2. Proyek Pembuatan Jembatan
Proyek pembuatan jembatan ini termasuk proyek yang besar. Proyek pembuatan jembatan ini dibuat untuk menyebrangi kali atau sungai dan laut. Salah satu contohnya pembuatan jembatan Suramadu, jembatan ini adalah jembatan untuk menyebrangi laut dari Surabaya ke Madura maupun sebaliknya, jembatan ini harus dirancang dengan baik dan diperhitunkan dengan benar dan harus dengan bahan-bahan yang bagus dan juga harus dikerjakan dengan orang-orang terbaik. Resiko proyek ini adalah jika ada baut yang ilang atau bahan bahan yang tidak bagus maka jembatan akan rubuh
1. Proyek Pembuatan Jalan Tol
Proyek pembuatan jalan tol ini termasuk proyek yang besar. Proyek jalan tol ini dibuat untuk menanggulangi kemacetan walaupun sampai sekarang belum maksimal juga mengatasi kemacetan. Salah satu proyek pembuatan jalan tol yaitu jalan tol padaleunyi, jalan tol ini harus dibuat dengan perhitungan yang benar karena struktur tanah yang labil dan mudah longsor dan jalannya pun yang naik turun. Resiko proyek ini yaitu jika perhitungannya tidak benar atau tanah yang berada di bawahnya longsor akan terjadi amblesnya jalan tol tersebut dan mengakibatkan kecelakaan.
2. Proyek Pembuatan Jembatan
Proyek pembuatan jembatan ini termasuk proyek yang besar. Proyek pembuatan jembatan ini dibuat untuk menyebrangi kali atau sungai dan laut. Salah satu contohnya pembuatan jembatan Suramadu, jembatan ini adalah jembatan untuk menyebrangi laut dari Surabaya ke Madura maupun sebaliknya, jembatan ini harus dirancang dengan baik dan diperhitunkan dengan benar dan harus dengan bahan-bahan yang bagus dan juga harus dikerjakan dengan orang-orang terbaik. Resiko proyek ini adalah jika ada baut yang ilang atau bahan bahan yang tidak bagus maka jembatan akan rubuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar lah dengan memakai bahasa ANDA